Tidak Ada yang Kebetulan

Aku yakin pertemuan kita bukan kebetulan.
Sungguh aku percaya, Tuhan sedang merencanakan sesuatu untuk kita,
dan aku yakin itu adalah rencana yang baik untuk kita.
Aku yakin pertemuan kita bukan kebetulan.

Kita Tidak Tahu bahwa Kita Tidak Tahu



Ada banyak hal yang kita tidak tahu. 
Ada banyak hal yang saya tidak tahu.
Ada banyak hal yang Anda tidak tahu.

Ketidaktahuan itu yang kemudian, seharusnya mendorong orang untuk mencari tahu, dan mungkin belajar untuk mengetahui.
Ketidaktahuan itu yang kemudian, seharusnya mendorong orang untuk menjadi rendah hati, bertanya.
Bertanya untuk tahu, perlu kerendahhatian, karena orang yang tinggi hati mengajukan pertanyaan untuk menguji, sedangkan orang yang rendah hati akan bertanya untuk memahami.

Bagaimana bisa kita menjadi sesombong itu, padahal ada banyak hal yang kita tidak tahu?
Bagaimana bisa kita menjadi semalas itu, padahal ada banyak hal yang kita tidak tahu?
Bagaimana bisa kita menjadi setidakpeduli itu, padahal ada banyak hal yang kita tidak tahu?
Bagaimana kita bisa sejahat itu, padahal ada banyak hal yang kita tidak tahu?
Bagaimana bisa kita punya prasangka seburuk itu, padahal ada banyak hal yang kita tidak tahu?
Bagaimana bisa kita sekeras itu, padahal ada banyak hal yang kita tidak tahu?
Bagaimana bisa kita memaksa seseorang sekeras itu, padahal ada banyak hal yang kita tidak tahu?

Tanpa kita sadari, ketidaktahuan membuat kita tidak lebih baik.
Dan yang lebih parah, kita tidak tahu bahwa kita tidak tahu.


Hai, Bung!

Hai, Bung!
Semua di sekelilingku mengingatkanku padamu, Kau tahu?
Sedang apa Kau disana?

Hai, Bung!
Aku rindu obrolan kita,
Aku rindu cerita pembangkit semangat,
Aku rindu pernyataan pengusik pikir,
Aku rindu pertanyaan, "Kau yakin apa yang kamu pikirkan dan lakukan itu sudah benar benar benar?"
Aku rindu pertanyaan, "Kau yakin keberpihakan yang selama ini kau bangun dan perjuangkan sudah memberdayakan? Bukan justru memperdayai?"

Hai, Bung!
Semoga Kau bahagia di sana.


Ups!

Kupandangi wajah-wajah itu,
Mata merah, muka lelah, kuyu.
Baju putih itu telah lusuh,
Bercampur keringat dan debu.

Pertanyaan-pertanyaan menyerbu benakku,
Bagaimana perjuangan Tuan hari ini?
Apa hasil perjuangan Tuan hari ini?
Apa rencana Tuan selanjutnya?
Apakah Tuan sudah makan sejak tadi pagi?
Tahukah Tuan, setelah Tuan pulang, ada sekelompok orang berbaju oranye berdatangan?
Bukan, mereka bukan mau berjuang seperti Tuan. Mereka mau bersihkan sisa-sisa perjuangan Tuan. Bagaimana menurut Tuan?
Bagaimana perasaan Tuan seandainya Tuan tahu, ternyata ada kepentingan lain yang tersembunyi dari perjuangan Tuan, yang sebenarnya Tuan niatkan untuk membela keyakinan Tuan?
Apa yang akan Tuan lakukan, ketika ternyata Tuan mendapati orang yang mengajak Tuan berjuang, ternyata menerima sejumlah imbalan?
Bagaimana jadinya, ketika Tuan menyadari bahwa ternyata perjuangan ini berangkat dari kebencian, bukan untuk membela keyakinan Tuan?
Apa yang akan Tuan lakukan, ketika orang yang Tuan sebut sebagai penista, kemudian dijatuhi hukuman? Apakah Tuan merasa menang? Kenapa Tuan merasa menang? Tuan merasa menang atas apa?
Apa yang sebenarnya sedang ingin Tuan tunjukkan?

Kupandangi wajah-wajah itu,
Mata merah, muka lelah, kuyu.
Baju putih itu telah lusuh,
Bercampur keringat dan debu.

Aku ada di belakangmu, Tuan.
Mendengarmu bercengkerama dengan temanmu,
Yang terlihat ikut bahagia menyaksikan aksimu,
Berfoto bersama di depan barisan polisi wanita yang siap siaga bertugas.

Ups!

Bun, Bunda dimana?

18.12
Sebuah pesan suara via Whatsapp, masuk. Kulihat, oh..Pa'e yang mengirimkan pesan suaranya.

"Bun, Bunda dimana? Bunda lagi ngapain? Kok ditelpon ga diangkat-angkat?", terdengar nada cemas dari seorang anak.

Ouch..dia meneleponku tadi. Dua kali. 18.10.

Segera, kubalas pesan suara itu, "Aku sedang di kantor, Vier. Maaf ya, aku tidak mendengar teleponmu tadi, karena aku sedang di toilet. Ada apa?", tanyaku.

Lama. Aku menunggu balasan pesan suaraku.

Lama. Kupandangi layar. Berharap balasan, menanti pertanda.

Lama. Kuputuskan beranjak dari kursiku. Aku harus pulang sekarang!

Vier Bertanya : Ikan Asin Hidupnya Dimana?

Akhir - akhir ini Vier suka makan ikan asin. Kesukaannya pada ikan asin, tak lepas dari peran Nenek - mamaku - yang memperkenalkannya pada ikan asin. Vier suka ikan asin peda, yang sudah dibuang tulang dan kepalanya, digoreng dengan tepung. Jadi tinggal makan dagingnya saja.

Nenek punya cara khusus untuk membuat ikan asin peda goreng tepung kesukaan Vier. Nenek membungkus ikan asin itu dengan kertas koran, kemudian merendamnya sekitar 30 menit, untuk mengurangi rasa asin pada ikan asin. Setelahnya, baru tulang dan kepala ikan dibuang, dan dagingnya diguling-gulingkan ke campuran tepung beras dan terigu, dan langsung digoreng.

Pada suatu waktu, sambil menikmati ikan asin goreng tepungnya, Vier bertanya, "Bunda, ikan asin itu hidupnya dimana?". Alamaaaaaakk..pertanyaan ini sulllliiiiiittt dijawab. Apalagi oleh Bunda yang pengetahuannya lemah iniii. Hiks..hiks..

Aku berpikir keras, mencoba menemukan jawabnya. Kali ini aku tidak bisa mengandalkan Mbah Google untuk menjawab pertanyaan Vier. Sambil mencoba tetap terlihat tenang seperti saran yang kubaca di majalah tentang orang tua, aku balik tanya ke Vier, "Maksud Vier gimana? Ikan asin yang lagi Vier maem itu, hidupnya dimana?".

"Iyyaaa..ikan asin yang aku maem ini kan sudah mati. Naaa..pas dia masih hidup, dia hidupnya dimana?", sepertinya dia sudah mulai tak sabar.

"Owh..itttuuu..kalau ikan asin yang Vier maem itu kan ikan asin peda, dia pas masih hidup, tinggalnya di laut.", jawabku. Kurasa itu jawaban yang benar...ya..aku yakin itu jawaban yang benar (tapi jadi malah makin ragu kalau jawabanku benar).

"Pantes dia asin ya, Bunda..tinggalnya di laut siy", mukanya sangat yakin!!
Ia lanjutkan mengunyah ikan asin goreng tepungnya.
Lha!! Kok gitu ternyata urutan berpikirnya. Duh, Gusti, kula nyuwun ide!

Vier mau jadi Penjahat

Dialog mencengangkan dengan Vier kembali terjadi. Dialog yang menggelitik dan mendorongku untuk menuliskannya. 


Begini situasinya:
Pagi hari, sekitar pukul 08.00 WIB, aku dan Eri bersiap berangkat kerja. Vier sudah mandi, siap main ke lapangan dekat rumah. Emak, ibu-ibu paruh baya yang bertugas menemani Vier sepanjang hari, sudah siap dengan semangkuk sarapan untuk Vier. Emak akan menyuapi Vier, sembari ia main di lapangan dengan teman-temannya. Nti - begitu Vier memanggilnya - ibunya Eri, juga sudah siap ke lapangan, menunggu Vier siap-siap dengan mainannya, sambil menyapu halaman.




"Vieer..Vieer..", Raka - 4 tahun - anak laki-laki berusia satu tahun lebih tua daripada Vier, memanggil Vier, mengajaknya main bersama di lapangan dekat rumah. Raka membawa sebuah pistol mainan pagi ini.

"Woooooiiiiiii........", mendengar teriakan Raka, Vier meluncur dari dalam rumah, memakai sandal nyaris terbalik, menyambut panggilan Raka. Melihat Raka membawa pistol mainan, Vier seperti tak mau ketinggalan. Ia kembali masuk ke rumah, mencari pistol mainannya.


Situasi berikutnya, pasti bisa ditebak. Ya, mereka bermain pistol mainan, beradu tembak, diselingi teriakan.
Aku dan Eri masih bersiap. Eri mulai mengeluarkan motornya, aku menyusul di belakangnya. Melihatku keluar, kedua anak tersebut dengan kompaknya mengarahkan tembakannya kepadaku. Aku terkejut, kemudian pura-pura kesakitan karena tertembak. Rupanya, drama ini membuat mereka semakin senang. Mereka justru semakin semangat mengarahkan tembakannya kepadaku.

"Bunda kerja dulu ya..", kataku pada Vier.

"Peluk..", katanya.

Maka ritual pagi menjelang berangkat kerja, dimulai. Vier meraih tanganku, menempelkan punggung tanganku di keningnya. Setelahnya, ia akan mundur beberapa langkah, menungguku berjongkok dan merentangkan kedua tangan, sambil berteriak, "Viieeerr..". Ia pun langsung berlari ke arahku, menubrukku, menyorongkan pipinya ke pipiku. Cium sambil melingkarkan tangan mungilnya di leherku, bersambut pelukan dan tepukan lembutku di punggungnya,  "Bunda sayang Vier..Bunda kerja dulu ya..Vier main..", bisikku di dekat telinganya.


Pelan, ia melepaskan pelukannya. 

"Ini Vier lagi jadi apa? Polisi atau penjahat?", tanyaku.

"Penjahat.", jawabnya riang.

"Penjahat? Penjahat itu yang kaya apa ya?", tanyaku memancing.

"Ituu...yang kerjaannya nangkep-nangkepin polisi", jawabnya riang.

"????", aku bengong, antara ingin tertawa dan mencoba memahami cara berpikirnya. Selama ini, yang Vier tahu tentang polisi adalah orang yang bertugas untuk menangkap penjahat, sedangkan ia belum pernah tahu apa itu penjahat. Berdasarkan pengetahuannya itu, ia kemudian membangun logika sendiri, dengan cara membalikkannya. Kalau polisi adalah orang yang bertugas menangkap penjahat, maka penjahat adalah orang yang bertugas menangkap polisi, begitulah kira-kira logika yang dibangun Vier.

"Vier..Vier jadi polisi aja, jangan jadi penjahat. Kalau jadi polisi, baik.", kata Nti, mencoba mengoreksi.

"Gak pa-pa, Nti. Vier jadi penjahat yang baik", jawabku. 

Vier sudah lepas dari pelukanku, berlari, kembali bermain dengan Raka. Mereka kembali saling menembak.

Mendengar ucapku, Nti langsung terdiam dan kembali menekuni aktivitasnya - menyapu halaman. Sekilas, sempat tertangkap olehku raut mukanya berubah.

---

Aku mulai perjalanan antar kota antar propinsi hari ini, berangkat kerja. Sepanjang perjalanan menuju kantor, aku tidak bisa berhenti memikirkan kejadian pagi ini, bahkan mengalihkannya pun tak sanggup. Banyak hal tentangnya berseliweran di kepalaku, tak mau beranjak dari sana.



Polisi dan Penjahat. Dalam logikamu, Polisi adalah orang yang menangkap penjahat, dan kamu membalik definisi itu menjadi Penjahat adalah orang yang menangkap polisi. Ah, Nak, kamu sedang membangun logikamu. Dimatamu, keduanya adalah orang yang melakukan sebuah pekerjaan, sudah. Belum ada nilai bahwa polisi itu baik dan penjahat itu buruk, dikotomi nilai yang umum berkembang di masyarakat. Walaupun kita juga melihat kenyataan bahwa ada juga (kalau tidak mau bilang semua) polisi yang buruk dan penjahat yang baik. Kamu jadi mengingatkan Bunda, bahwa apapun pekerjaannya, setiap orang bisa baik dan bisa juga buruk.

Ah, Vier. Kalau soal mengaduk - aduk hati dan pikiran Bunda, Kamu memang jagonya, Nak. Harus Bunda akui, Kamu berhasil menjungkirbalikkan banyak hal yang selama ini Bunda yakini dan mungkin (sebagiannya) Bunda anggap benar. Kamu juga berhasil menguatkan Bunda, meyakinkan Bunda tentang hal-hal yang Bunda masih ragukan dan butuh pembuktian.

Satu hal yang Bunda yakini, Nak. Cinta Bunda untukmu makin bertumbuh setiap harinya. Semoga ini cinta yang membebaskan. Cinta yang bisa membuat Bunda menghargai setiap pilihan hidupmu, dan tetap waras ketika mencintaimu. 

Love you as always, Vier.