Vier Bertanya : Ikan Asin Hidupnya Dimana?

Akhir - akhir ini Vier suka makan ikan asin. Kesukaannya pada ikan asin, tak lepas dari peran Nenek - mamaku - yang memperkenalkannya pada ikan asin. Vier suka ikan asin peda, yang sudah dibuang tulang dan kepalanya, digoreng dengan tepung. Jadi tinggal makan dagingnya saja.

Nenek punya cara khusus untuk membuat ikan asin peda goreng tepung kesukaan Vier. Nenek membungkus ikan asin itu dengan kertas koran, kemudian merendamnya sekitar 30 menit, untuk mengurangi rasa asin pada ikan asin. Setelahnya, baru tulang dan kepala ikan dibuang, dan dagingnya diguling-gulingkan ke campuran tepung beras dan terigu, dan langsung digoreng.

Pada suatu waktu, sambil menikmati ikan asin goreng tepungnya, Vier bertanya, "Bunda, ikan asin itu hidupnya dimana?". Alamaaaaaakk..pertanyaan ini sulllliiiiiittt dijawab. Apalagi oleh Bunda yang pengetahuannya lemah iniii. Hiks..hiks..

Aku berpikir keras, mencoba menemukan jawabnya. Kali ini aku tidak bisa mengandalkan Mbah Google untuk menjawab pertanyaan Vier. Sambil mencoba tetap terlihat tenang seperti saran yang kubaca di majalah tentang orang tua, aku balik tanya ke Vier, "Maksud Vier gimana? Ikan asin yang lagi Vier maem itu, hidupnya dimana?".

"Iyyaaa..ikan asin yang aku maem ini kan sudah mati. Naaa..pas dia masih hidup, dia hidupnya dimana?", sepertinya dia sudah mulai tak sabar.

"Owh..itttuuu..kalau ikan asin yang Vier maem itu kan ikan asin peda, dia pas masih hidup, tinggalnya di laut.", jawabku. Kurasa itu jawaban yang benar...ya..aku yakin itu jawaban yang benar (tapi jadi malah makin ragu kalau jawabanku benar).

"Pantes dia asin ya, Bunda..tinggalnya di laut siy", mukanya sangat yakin!!
Ia lanjutkan mengunyah ikan asin goreng tepungnya.
Lha!! Kok gitu ternyata urutan berpikirnya. Duh, Gusti, kula nyuwun ide!

Vier mau jadi Penjahat

Dialog mencengangkan dengan Vier kembali terjadi. Dialog yang menggelitik dan mendorongku untuk menuliskannya. 


Begini situasinya:
Pagi hari, sekitar pukul 08.00 WIB, aku dan Eri bersiap berangkat kerja. Vier sudah mandi, siap main ke lapangan dekat rumah. Emak, ibu-ibu paruh baya yang bertugas menemani Vier sepanjang hari, sudah siap dengan semangkuk sarapan untuk Vier. Emak akan menyuapi Vier, sembari ia main di lapangan dengan teman-temannya. Nti - begitu Vier memanggilnya - ibunya Eri, juga sudah siap ke lapangan, menunggu Vier siap-siap dengan mainannya, sambil menyapu halaman.




"Vieer..Vieer..", Raka - 4 tahun - anak laki-laki berusia satu tahun lebih tua daripada Vier, memanggil Vier, mengajaknya main bersama di lapangan dekat rumah. Raka membawa sebuah pistol mainan pagi ini.

"Woooooiiiiiii........", mendengar teriakan Raka, Vier meluncur dari dalam rumah, memakai sandal nyaris terbalik, menyambut panggilan Raka. Melihat Raka membawa pistol mainan, Vier seperti tak mau ketinggalan. Ia kembali masuk ke rumah, mencari pistol mainannya.


Situasi berikutnya, pasti bisa ditebak. Ya, mereka bermain pistol mainan, beradu tembak, diselingi teriakan.
Aku dan Eri masih bersiap. Eri mulai mengeluarkan motornya, aku menyusul di belakangnya. Melihatku keluar, kedua anak tersebut dengan kompaknya mengarahkan tembakannya kepadaku. Aku terkejut, kemudian pura-pura kesakitan karena tertembak. Rupanya, drama ini membuat mereka semakin senang. Mereka justru semakin semangat mengarahkan tembakannya kepadaku.

"Bunda kerja dulu ya..", kataku pada Vier.

"Peluk..", katanya.

Maka ritual pagi menjelang berangkat kerja, dimulai. Vier meraih tanganku, menempelkan punggung tanganku di keningnya. Setelahnya, ia akan mundur beberapa langkah, menungguku berjongkok dan merentangkan kedua tangan, sambil berteriak, "Viieeerr..". Ia pun langsung berlari ke arahku, menubrukku, menyorongkan pipinya ke pipiku. Cium sambil melingkarkan tangan mungilnya di leherku, bersambut pelukan dan tepukan lembutku di punggungnya,  "Bunda sayang Vier..Bunda kerja dulu ya..Vier main..", bisikku di dekat telinganya.


Pelan, ia melepaskan pelukannya. 

"Ini Vier lagi jadi apa? Polisi atau penjahat?", tanyaku.

"Penjahat.", jawabnya riang.

"Penjahat? Penjahat itu yang kaya apa ya?", tanyaku memancing.

"Ituu...yang kerjaannya nangkep-nangkepin polisi", jawabnya riang.

"????", aku bengong, antara ingin tertawa dan mencoba memahami cara berpikirnya. Selama ini, yang Vier tahu tentang polisi adalah orang yang bertugas untuk menangkap penjahat, sedangkan ia belum pernah tahu apa itu penjahat. Berdasarkan pengetahuannya itu, ia kemudian membangun logika sendiri, dengan cara membalikkannya. Kalau polisi adalah orang yang bertugas menangkap penjahat, maka penjahat adalah orang yang bertugas menangkap polisi, begitulah kira-kira logika yang dibangun Vier.

"Vier..Vier jadi polisi aja, jangan jadi penjahat. Kalau jadi polisi, baik.", kata Nti, mencoba mengoreksi.

"Gak pa-pa, Nti. Vier jadi penjahat yang baik", jawabku. 

Vier sudah lepas dari pelukanku, berlari, kembali bermain dengan Raka. Mereka kembali saling menembak.

Mendengar ucapku, Nti langsung terdiam dan kembali menekuni aktivitasnya - menyapu halaman. Sekilas, sempat tertangkap olehku raut mukanya berubah.

---

Aku mulai perjalanan antar kota antar propinsi hari ini, berangkat kerja. Sepanjang perjalanan menuju kantor, aku tidak bisa berhenti memikirkan kejadian pagi ini, bahkan mengalihkannya pun tak sanggup. Banyak hal tentangnya berseliweran di kepalaku, tak mau beranjak dari sana.



Polisi dan Penjahat. Dalam logikamu, Polisi adalah orang yang menangkap penjahat, dan kamu membalik definisi itu menjadi Penjahat adalah orang yang menangkap polisi. Ah, Nak, kamu sedang membangun logikamu. Dimatamu, keduanya adalah orang yang melakukan sebuah pekerjaan, sudah. Belum ada nilai bahwa polisi itu baik dan penjahat itu buruk, dikotomi nilai yang umum berkembang di masyarakat. Walaupun kita juga melihat kenyataan bahwa ada juga (kalau tidak mau bilang semua) polisi yang buruk dan penjahat yang baik. Kamu jadi mengingatkan Bunda, bahwa apapun pekerjaannya, setiap orang bisa baik dan bisa juga buruk.

Ah, Vier. Kalau soal mengaduk - aduk hati dan pikiran Bunda, Kamu memang jagonya, Nak. Harus Bunda akui, Kamu berhasil menjungkirbalikkan banyak hal yang selama ini Bunda yakini dan mungkin (sebagiannya) Bunda anggap benar. Kamu juga berhasil menguatkan Bunda, meyakinkan Bunda tentang hal-hal yang Bunda masih ragukan dan butuh pembuktian.

Satu hal yang Bunda yakini, Nak. Cinta Bunda untukmu makin bertumbuh setiap harinya. Semoga ini cinta yang membebaskan. Cinta yang bisa membuat Bunda menghargai setiap pilihan hidupmu, dan tetap waras ketika mencintaimu. 

Love you as always, Vier.





Vier bertanya : Orang Meninggal Berdoanya Gimana?

"Bun, kalau orang meninggal berdoanya gimana?", pertanyaan itu tiba - tiba terlontar dari bibir mungilnya. 

"Ha? Doa orang meninggal?", aku kaget, setengah gelagapan juga menghadapi pertanyaan aneh yang mendadak begini.


"Iyaaa. Orang meninggal berdoanya gimana?", Vier kembali menegaskan pertanyaannya.


"Hmm...mungkin begini, Ya Allah, ampunilah ia, terimalah semua amalnya, dan tempatkanlah ia di sisi-Mu", jawabku, berharap ia mengerti.


"Kalau orang yang ga meninggal?", alamaaakk...apa pula ini?


"Oohh..kalau yang belum meninggal berdoanya mungkin begini, 'Kuatkanlah kami menerima semua kenyataan ini, dan karuniakanlah kesabaran pada kami sepeninggalnya ya, Allah', begitu.", jawabku, jadi deg-degan, kok tiba - tiba muncul pertanyaan seperti ini. Kucoba klarifikasi, "Vier, kok tiba-tiba nanya orang meninggal berdoanya gimana, emang ada apa sih?", aku penasaran banget. Ada apa dibalik semua pertanyaan itu?


"Kalau kita, kan berdoanya begini (sambil menengadahkan kedua tangannya, ambil posisi berdoa setelah sholat), kuat kan tangannya (maksudnya mungkin masih sanggup menengadahkan tangan ketika berdoa). Kalau orang meninggal kan gak gerak-gerak lagi tuh, terus dikubur, itu tangannya gimana?", waaaaksss....itu toh maksudnyaaa...


Terrruuuuuussss...aku gimana jawabnyaaaah? Aku juga belum pernah lihat posisi orang meninggal di dalam kuburnya berdoa...duuuuhh..kenapa pertanyaannya susah banget siiyyy..


"Hmmmm...gimana ya? Bunda belum pernah lihat orang meninggal terus dikubur, berdoanya gimana siy..tapi, orang meninggal kan tangannya sedekap gini ya... (sambil mempraktekkan tangan sedekap).", jawabku hati - hati, alias takut ditanya yang lebih sulit lagiii.


"Oooohh gituuuuu...", jawabnya sambil ngeloyor pergi, main lagi.


Lha? Udah?? Gitu doang?? Naaahh...aku yang sekarang jadi penasaran, orang yang sudah meninggal, masih bisa  berdoa ga siyy??

Dear Vier, Kamu Bukan Investasi!

Dear Vier,

Suatu hari nanti, Bunda harap kamu akan membaca catatan ini.

Sebelum kamu lahir, bahkan sebelum Bunda dan Pa'e menikah, kami telah mendiskusikan hal ini. Beginilah cara kami memposisikan diri dan memandangmu sebagai anak kami.

Kamu adalah hal terbaik yang Tuhan berikan pada kami
Kamu bukan hanya lucu, 
Kamu bukan hanya menggemaskan

ternyata...
Kamu tidak terlahir seperti selembar kertas putih
dan kami akan menulisinya dengan tinta kehidupan

ternyata...
Kamu lahir dengan segala hal yang Tuhan bekalkan padamu, 
untuk melanjutkan hidupmu

Kami akan menjadi jalanmu saja,
menjadi temanmu melanjutkan hidup,
membantumu memilah baik dan buruk,
mengajakmu menghormati, menghargai, mengakui, memberi manfaat pada semua makhluk

menerima segala hal yang tidak dapat diubah,
kuat dan berani mengubah hal-hal yang memang perlu 
dan mampu membedakan diantara keduanya

teryata...
Kamu dikirim Tuhan sebagai teman belajar kami
dan kita akan tumbuh bersama

Kamu yang tentukan mau jadi apa, mau jadi siapa
dan kami akan selalu ada untukmu
walau mungkin suatu saat nanti, kita terpisah ruang dan waktu

Percayalah, yakinlah,
Kamu tak perlu membayar apapun pada kami
karena kami tidak sedang berdagang ataupun berinvestasi

Lanjutkan hidupmu,
apapun adanya dirimu nanti,
percayalah, sekarang kami sedang bersiap untuk menerima itu,
dan pada waktunya nanti, kami pasti siap.

Kami selalu menyayangimu,
Doa kami menyertaimu  :)

Vier dan Barang Berharganya



Barang-barang yang lebih banyak dalam kondisi rusak daripada utuh, 
Tetap disimpannya, tak secuilpun terbuang.


Seribu tiga ratus tiga puluh empat hari berlalu, baru dan usang hanyalah soal waktu.


Dunia bagai bergoncang,
ketika si pemilik mulai mencari-cari barang mungil yang ia ingat untuk digunakannya.
Akan benar-benar berguncang ketika ia tak kunjung menemukan apa yang dicarinya.


Sekilas, barang-barang itu seperti "barang rongsok", tapi bagai emas dimata pemiliknya.

Kami tak pernah menyingkirkan barang-barang itu,
selama kau masih menginginkannya, Nak.

Bermainlah sepuasmu,
karena dengan bermain kau belajar.



Vier Mau Sekolah di Rumah

Pagi ini, seperti biasa, aku ngobrol dengan Vier sambil menemaninya mandi. Ya, menemaninya mandi karena sebenarnya Vier sudah mulai bisa mandi sendiri, tetapi karena inilah satu-satunya moment yang bisa kumanfaatkan untuk ngobrol dengannya secara bebas, tanpa intervensi ide dari siapapun. Jadi, aku bisa menggali pikiran Vier yang genuine, yang belum tentu aku bisa dapatkan ketika kami ngobrol dengan dikelilingi beberapa orang dewasa. Intinya, sebenarnya kami butuh "our time", berdua atau kadang bertiga dengan Si Pa'e, ngobrol.

Vier : Raka kemana sih, Bun?
Aku : Maksudnya gimana, Raka kemana?
Vier : Raka ga main ke rumah Vier lagi, Bun.
Aku : Owh..Raka kan sudah mulai sekolah PAUD, di TK dekat masjid situ. Emang kenapa? Vier mau sekolah di PAUD juga, biar bisa main lagi sama Raka?
Vier : Tidak mau (dia lagi senang menggunakan "tidak mau" daripada "ga mau".). Vier mau di rumah aja.
Aku : Maksudnya gimana?
Vier : Vier ga mau sekolah, Bun. Vier di rumah aja. Bu guru aja yang ke rumah Vier.
Aku : Owh.. Vier mau sekolah di rumah aja? Jadi, Bunda minta Bu guru untuk datang ke rumah Vier? Kenapa begitu?
Vier : Iya. Soalnya Bu guru naik motor.


Aku makin bingung dengan statement anak 3,5 tahun ini.

Aku : Maksudnya gimana, Vier? Vier juga bisa diantar naik motor ke sekolah sama Pa'e atau Bunda kan?
Vier : Tapi Pa'e sama Bunda kan kerja? Vier masih kecil. Kalo Bu Guru kan udah gede, bisa naik motor sendiri.

Owh..aku mulai paham kemana arah pembicaraan anak ini. Vier sedang belajar membandingkan dirinya dengan segala hal yang sedang dia lihat, apapun. Proses membandingkan tersebut harus aku lihat sebagai sebuah proses perkembangan cara berpikirnya. Walaupun sejujurnya aku sangat kagum dengan caranya membangun logika untuk menjelaskan padaku kenapa dia memilih belajar di rumah.
Sambil senyum-senyum melihatnya berusaha meyakinkanku, dalam hatiku berbisik padanya, "Subhanallah, Nak. Itu penjelasan yang paling masuk akal buat Bunda. Bunda bisa menerima penjelasanmu, Nak. Terima kasih sudah berusaha memahamkan Bunda tentang caramu berpikir dan berlogika. Sekali lagi, Bunda belajar darimu."

Catatan untuk Laki-lakiku

Sayang,

Jangan berjalan di depanku,

karena mungkin aku tak mampu mengikutimu
Jangan berjalan di belakangku,
karena mungkin aku bukanlah panutanmu
Berjalanlah bersamaku,
merenda hidup kita dengan rasamu dan rasaku,
dengan katamu dan kataku,
dan dengan lakuku dan lakumu..

Membangun kita.