Sedikit Catatan tentang Persahabatan

Saya sedang senang dan menikmati bentuk - bentuk persahabatan di sekitar saya. Setidaknya saya amati ada berbagai macam bentuknya, bahkan mungkin hampir mendekati geng.

Ada yang seperti geng-nya Cinta di AADC, kemana-mana bersama, saling mendukung dan saling bersandar. Bahkan ada pula yang sampai susah dibedakan, ini sedang bekerja dan memposisikan diri sebagai rekan kerja, atau sedang memposisikan diri sebagai teman. Kenapa saya bilang jadi mirip geng? Karena sudah tidak dapat dibedakan lagi, ini sedang bekerja atau sedang bermain. Ketika teman se-geng salah, selemah-lemahnya iman, teman kerja lain yang diminta memahami.

Tidak ada yang salah dengan pertemanan, tentu saja itu mutlak. Tapi bisa saja ada yang salah dengan cara saya melihat, dan memahami. Karena saya punya pandangan yang berbeda dan saya punya nilai yang berbeda juga.

Saya bukan orang yang tak suka berteman. Tapi saya memang memilah betul, kapan saya bekerja dan kapan saya sedang bermain dengan teman-teman saya. Mungkin itu sebabnya, saya tak punya banyak teman yang benar-benar dekat dan tahu saya lebih dalam.

Saya senang bercanda dan ber haha hihi dengan teman, bahkan sahabat saya. Tapi pada saat yang sama, saya juga bisa sangat peka, jangan sampai haha hihi mengganggu kenyamanan orang lain.

Saya bisa pergi bersama-sama dengan banyak orang, dengan teman-teman dan sahabat saya, tapi saya tahu betul kapan saya harus menyisihkan waktu dengan sahabat saya, dan kapan saya harus membaur dengan teman-teman saya.

Saya bersahabat dengan beberapa orang teman, tapi persahabatan saya tidak menjadi tekanan bagi saya untuk melakukan hal yang sama, atau menjadi sama seperti yang sahabat saya lakukan.

Tidak Ada yang Kebetulan

Aku yakin pertemuan kita bukan kebetulan.
Sungguh aku percaya, Tuhan sedang merencanakan sesuatu untuk kita,
dan aku yakin itu adalah rencana yang baik untuk kita.
Aku yakin pertemuan kita bukan kebetulan.

Kita Tidak Tahu bahwa Kita Tidak Tahu



Ada banyak hal yang kita tidak tahu. 
Ada banyak hal yang saya tidak tahu.
Ada banyak hal yang Anda tidak tahu.

Ketidaktahuan itu yang kemudian, seharusnya mendorong orang untuk mencari tahu, dan mungkin belajar untuk mengetahui.
Ketidaktahuan itu yang kemudian, seharusnya mendorong orang untuk menjadi rendah hati, bertanya.
Bertanya untuk tahu, perlu kerendahhatian, karena orang yang tinggi hati mengajukan pertanyaan untuk menguji, sedangkan orang yang rendah hati akan bertanya untuk memahami.

Bagaimana bisa kita menjadi sesombong itu, padahal ada banyak hal yang kita tidak tahu?
Bagaimana bisa kita menjadi semalas itu, padahal ada banyak hal yang kita tidak tahu?
Bagaimana bisa kita menjadi setidakpeduli itu, padahal ada banyak hal yang kita tidak tahu?
Bagaimana kita bisa sejahat itu, padahal ada banyak hal yang kita tidak tahu?
Bagaimana bisa kita punya prasangka seburuk itu, padahal ada banyak hal yang kita tidak tahu?
Bagaimana bisa kita sekeras itu, padahal ada banyak hal yang kita tidak tahu?
Bagaimana bisa kita memaksa seseorang sekeras itu, padahal ada banyak hal yang kita tidak tahu?

Tanpa kita sadari, ketidaktahuan membuat kita tidak lebih baik.
Dan yang lebih parah, kita tidak tahu bahwa kita tidak tahu.


Hai, Bung!

Hai, Bung!
Semua di sekelilingku mengingatkanku padamu, Kau tahu?
Sedang apa Kau disana?

Hai, Bung!
Aku rindu obrolan kita,
Aku rindu cerita pembangkit semangat,
Aku rindu pernyataan pengusik pikir,
Aku rindu pertanyaan, "Kau yakin apa yang kamu pikirkan dan lakukan itu sudah benar benar benar?"
Aku rindu pertanyaan, "Kau yakin keberpihakan yang selama ini kau bangun dan perjuangkan sudah memberdayakan? Bukan justru memperdayai?"

Hai, Bung!
Semoga Kau bahagia di sana.


Ups!

Kupandangi wajah-wajah itu,
Mata merah, muka lelah, kuyu.
Baju putih itu telah lusuh,
Bercampur keringat dan debu.

Pertanyaan-pertanyaan menyerbu benakku,
Bagaimana perjuangan Tuan hari ini?
Apa hasil perjuangan Tuan hari ini?
Apa rencana Tuan selanjutnya?
Apakah Tuan sudah makan sejak tadi pagi?
Tahukah Tuan, setelah Tuan pulang, ada sekelompok orang berbaju oranye berdatangan?
Bukan, mereka bukan mau berjuang seperti Tuan. Mereka mau bersihkan sisa-sisa perjuangan Tuan. Bagaimana menurut Tuan?
Bagaimana perasaan Tuan seandainya Tuan tahu, ternyata ada kepentingan lain yang tersembunyi dari perjuangan Tuan, yang sebenarnya Tuan niatkan untuk membela keyakinan Tuan?
Apa yang akan Tuan lakukan, ketika ternyata Tuan mendapati orang yang mengajak Tuan berjuang, ternyata menerima sejumlah imbalan?
Bagaimana jadinya, ketika Tuan menyadari bahwa ternyata perjuangan ini berangkat dari kebencian, bukan untuk membela keyakinan Tuan?
Apa yang akan Tuan lakukan, ketika orang yang Tuan sebut sebagai penista, kemudian dijatuhi hukuman? Apakah Tuan merasa menang? Kenapa Tuan merasa menang? Tuan merasa menang atas apa?
Apa yang sebenarnya sedang ingin Tuan tunjukkan?

Kupandangi wajah-wajah itu,
Mata merah, muka lelah, kuyu.
Baju putih itu telah lusuh,
Bercampur keringat dan debu.

Aku ada di belakangmu, Tuan.
Mendengarmu bercengkerama dengan temanmu,
Yang terlihat ikut bahagia menyaksikan aksimu,
Berfoto bersama di depan barisan polisi wanita yang siap siaga bertugas.

Ups!

Bun, Bunda dimana?

18.12
Sebuah pesan suara via Whatsapp, masuk. Kulihat, oh..Pa'e yang mengirimkan pesan suaranya.

"Bun, Bunda dimana? Bunda lagi ngapain? Kok ditelpon ga diangkat-angkat?", terdengar nada cemas dari seorang anak.

Ouch..dia meneleponku tadi. Dua kali. 18.10.

Segera, kubalas pesan suara itu, "Aku sedang di kantor, Vier. Maaf ya, aku tidak mendengar teleponmu tadi, karena aku sedang di toilet. Ada apa?", tanyaku.

Lama. Aku menunggu balasan pesan suaraku.

Lama. Kupandangi layar. Berharap balasan, menanti pertanda.

Lama. Kuputuskan beranjak dari kursiku. Aku harus pulang sekarang!

Vier Bertanya : Ikan Asin Hidupnya Dimana?

Akhir - akhir ini Vier suka makan ikan asin. Kesukaannya pada ikan asin, tak lepas dari peran Nenek - mamaku - yang memperkenalkannya pada ikan asin. Vier suka ikan asin peda, yang sudah dibuang tulang dan kepalanya, digoreng dengan tepung. Jadi tinggal makan dagingnya saja.

Nenek punya cara khusus untuk membuat ikan asin peda goreng tepung kesukaan Vier. Nenek membungkus ikan asin itu dengan kertas koran, kemudian merendamnya sekitar 30 menit, untuk mengurangi rasa asin pada ikan asin. Setelahnya, baru tulang dan kepala ikan dibuang, dan dagingnya diguling-gulingkan ke campuran tepung beras dan terigu, dan langsung digoreng.

Pada suatu waktu, sambil menikmati ikan asin goreng tepungnya, Vier bertanya, "Bunda, ikan asin itu hidupnya dimana?". Alamaaaaaakk..pertanyaan ini sulllliiiiiittt dijawab. Apalagi oleh Bunda yang pengetahuannya lemah iniii. Hiks..hiks..

Aku berpikir keras, mencoba menemukan jawabnya. Kali ini aku tidak bisa mengandalkan Mbah Google untuk menjawab pertanyaan Vier. Sambil mencoba tetap terlihat tenang seperti saran yang kubaca di majalah tentang orang tua, aku balik tanya ke Vier, "Maksud Vier gimana? Ikan asin yang lagi Vier maem itu, hidupnya dimana?".

"Iyyaaa..ikan asin yang aku maem ini kan sudah mati. Naaa..pas dia masih hidup, dia hidupnya dimana?", sepertinya dia sudah mulai tak sabar.

"Owh..itttuuu..kalau ikan asin yang Vier maem itu kan ikan asin peda, dia pas masih hidup, tinggalnya di laut.", jawabku. Kurasa itu jawaban yang benar...ya..aku yakin itu jawaban yang benar (tapi jadi malah makin ragu kalau jawabanku benar).

"Pantes dia asin ya, Bunda..tinggalnya di laut siy", mukanya sangat yakin!!
Ia lanjutkan mengunyah ikan asin goreng tepungnya.
Lha!! Kok gitu ternyata urutan berpikirnya. Duh, Gusti, kula nyuwun ide!

Vier mau jadi Penjahat

Dialog mencengangkan dengan Vier kembali terjadi. Dialog yang menggelitik dan mendorongku untuk menuliskannya. 


Begini situasinya:
Pagi hari, sekitar pukul 08.00 WIB, aku dan Eri bersiap berangkat kerja. Vier sudah mandi, siap main ke lapangan dekat rumah. Emak, ibu-ibu paruh baya yang bertugas menemani Vier sepanjang hari, sudah siap dengan semangkuk sarapan untuk Vier. Emak akan menyuapi Vier, sembari ia main di lapangan dengan teman-temannya. Nti - begitu Vier memanggilnya - ibunya Eri, juga sudah siap ke lapangan, menunggu Vier siap-siap dengan mainannya, sambil menyapu halaman.




"Vieer..Vieer..", Raka - 4 tahun - anak laki-laki berusia satu tahun lebih tua daripada Vier, memanggil Vier, mengajaknya main bersama di lapangan dekat rumah. Raka membawa sebuah pistol mainan pagi ini.

"Woooooiiiiiii........", mendengar teriakan Raka, Vier meluncur dari dalam rumah, memakai sandal nyaris terbalik, menyambut panggilan Raka. Melihat Raka membawa pistol mainan, Vier seperti tak mau ketinggalan. Ia kembali masuk ke rumah, mencari pistol mainannya.


Situasi berikutnya, pasti bisa ditebak. Ya, mereka bermain pistol mainan, beradu tembak, diselingi teriakan.
Aku dan Eri masih bersiap. Eri mulai mengeluarkan motornya, aku menyusul di belakangnya. Melihatku keluar, kedua anak tersebut dengan kompaknya mengarahkan tembakannya kepadaku. Aku terkejut, kemudian pura-pura kesakitan karena tertembak. Rupanya, drama ini membuat mereka semakin senang. Mereka justru semakin semangat mengarahkan tembakannya kepadaku.

"Bunda kerja dulu ya..", kataku pada Vier.

"Peluk..", katanya.

Maka ritual pagi menjelang berangkat kerja, dimulai. Vier meraih tanganku, menempelkan punggung tanganku di keningnya. Setelahnya, ia akan mundur beberapa langkah, menungguku berjongkok dan merentangkan kedua tangan, sambil berteriak, "Viieeerr..". Ia pun langsung berlari ke arahku, menubrukku, menyorongkan pipinya ke pipiku. Cium sambil melingkarkan tangan mungilnya di leherku, bersambut pelukan dan tepukan lembutku di punggungnya,  "Bunda sayang Vier..Bunda kerja dulu ya..Vier main..", bisikku di dekat telinganya.


Pelan, ia melepaskan pelukannya. 

"Ini Vier lagi jadi apa? Polisi atau penjahat?", tanyaku.

"Penjahat.", jawabnya riang.

"Penjahat? Penjahat itu yang kaya apa ya?", tanyaku memancing.

"Ituu...yang kerjaannya nangkep-nangkepin polisi", jawabnya riang.

"????", aku bengong, antara ingin tertawa dan mencoba memahami cara berpikirnya. Selama ini, yang Vier tahu tentang polisi adalah orang yang bertugas untuk menangkap penjahat, sedangkan ia belum pernah tahu apa itu penjahat. Berdasarkan pengetahuannya itu, ia kemudian membangun logika sendiri, dengan cara membalikkannya. Kalau polisi adalah orang yang bertugas menangkap penjahat, maka penjahat adalah orang yang bertugas menangkap polisi, begitulah kira-kira logika yang dibangun Vier.

"Vier..Vier jadi polisi aja, jangan jadi penjahat. Kalau jadi polisi, baik.", kata Nti, mencoba mengoreksi.

"Gak pa-pa, Nti. Vier jadi penjahat yang baik", jawabku. 

Vier sudah lepas dari pelukanku, berlari, kembali bermain dengan Raka. Mereka kembali saling menembak.

Mendengar ucapku, Nti langsung terdiam dan kembali menekuni aktivitasnya - menyapu halaman. Sekilas, sempat tertangkap olehku raut mukanya berubah.

---

Aku mulai perjalanan antar kota antar propinsi hari ini, berangkat kerja. Sepanjang perjalanan menuju kantor, aku tidak bisa berhenti memikirkan kejadian pagi ini, bahkan mengalihkannya pun tak sanggup. Banyak hal tentangnya berseliweran di kepalaku, tak mau beranjak dari sana.



Polisi dan Penjahat. Dalam logikamu, Polisi adalah orang yang menangkap penjahat, dan kamu membalik definisi itu menjadi Penjahat adalah orang yang menangkap polisi. Ah, Nak, kamu sedang membangun logikamu. Dimatamu, keduanya adalah orang yang melakukan sebuah pekerjaan, sudah. Belum ada nilai bahwa polisi itu baik dan penjahat itu buruk, dikotomi nilai yang umum berkembang di masyarakat. Walaupun kita juga melihat kenyataan bahwa ada juga (kalau tidak mau bilang semua) polisi yang buruk dan penjahat yang baik. Kamu jadi mengingatkan Bunda, bahwa apapun pekerjaannya, setiap orang bisa baik dan bisa juga buruk.

Ah, Vier. Kalau soal mengaduk - aduk hati dan pikiran Bunda, Kamu memang jagonya, Nak. Harus Bunda akui, Kamu berhasil menjungkirbalikkan banyak hal yang selama ini Bunda yakini dan mungkin (sebagiannya) Bunda anggap benar. Kamu juga berhasil menguatkan Bunda, meyakinkan Bunda tentang hal-hal yang Bunda masih ragukan dan butuh pembuktian.

Satu hal yang Bunda yakini, Nak. Cinta Bunda untukmu makin bertumbuh setiap harinya. Semoga ini cinta yang membebaskan. Cinta yang bisa membuat Bunda menghargai setiap pilihan hidupmu, dan tetap waras ketika mencintaimu. 

Love you as always, Vier.





Vier bertanya : Orang Meninggal Berdoanya Gimana?

"Bun, kalau orang meninggal berdoanya gimana?", pertanyaan itu tiba - tiba terlontar dari bibir mungilnya. 

"Ha? Doa orang meninggal?", aku kaget, setengah gelagapan juga menghadapi pertanyaan aneh yang mendadak begini.


"Iyaaa. Orang meninggal berdoanya gimana?", Vier kembali menegaskan pertanyaannya.


"Hmm...mungkin begini, Ya Allah, ampunilah ia, terimalah semua amalnya, dan tempatkanlah ia di sisi-Mu", jawabku, berharap ia mengerti.


"Kalau orang yang ga meninggal?", alamaaakk...apa pula ini?


"Oohh..kalau yang belum meninggal berdoanya mungkin begini, 'Kuatkanlah kami menerima semua kenyataan ini, dan karuniakanlah kesabaran pada kami sepeninggalnya ya, Allah', begitu.", jawabku, jadi deg-degan, kok tiba - tiba muncul pertanyaan seperti ini. Kucoba klarifikasi, "Vier, kok tiba-tiba nanya orang meninggal berdoanya gimana, emang ada apa sih?", aku penasaran banget. Ada apa dibalik semua pertanyaan itu?


"Kalau kita, kan berdoanya begini (sambil menengadahkan kedua tangannya, ambil posisi berdoa setelah sholat), kuat kan tangannya (maksudnya mungkin masih sanggup menengadahkan tangan ketika berdoa). Kalau orang meninggal kan gak gerak-gerak lagi tuh, terus dikubur, itu tangannya gimana?", waaaaksss....itu toh maksudnyaaa...


Terrruuuuuussss...aku gimana jawabnyaaaah? Aku juga belum pernah lihat posisi orang meninggal di dalam kuburnya berdoa...duuuuhh..kenapa pertanyaannya susah banget siiyyy..


"Hmmmm...gimana ya? Bunda belum pernah lihat orang meninggal terus dikubur, berdoanya gimana siy..tapi, orang meninggal kan tangannya sedekap gini ya... (sambil mempraktekkan tangan sedekap).", jawabku hati - hati, alias takut ditanya yang lebih sulit lagiii.


"Oooohh gituuuuu...", jawabnya sambil ngeloyor pergi, main lagi.


Lha? Udah?? Gitu doang?? Naaahh...aku yang sekarang jadi penasaran, orang yang sudah meninggal, masih bisa  berdoa ga siyy??

Dear Vier, Kamu Bukan Investasi!

Dear Vier,

Suatu hari nanti, Bunda harap kamu akan membaca catatan ini.

Sebelum kamu lahir, bahkan sebelum Bunda dan Pa'e menikah, kami telah mendiskusikan hal ini. Beginilah cara kami memposisikan diri dan memandangmu sebagai anak kami.

Kamu adalah hal terbaik yang Tuhan berikan pada kami
Kamu bukan hanya lucu, 
Kamu bukan hanya menggemaskan

ternyata...
Kamu tidak terlahir seperti selembar kertas putih
dan kami akan menulisinya dengan tinta kehidupan

ternyata...
Kamu lahir dengan segala hal yang Tuhan bekalkan padamu, 
untuk melanjutkan hidupmu

Kami akan menjadi jalanmu saja,
menjadi temanmu melanjutkan hidup,
membantumu memilah baik dan buruk,
mengajakmu menghormati, menghargai, mengakui, memberi manfaat pada semua makhluk

menerima segala hal yang tidak dapat diubah,
kuat dan berani mengubah hal-hal yang memang perlu 
dan mampu membedakan diantara keduanya

teryata...
Kamu dikirim Tuhan sebagai teman belajar kami
dan kita akan tumbuh bersama

Kamu yang tentukan mau jadi apa, mau jadi siapa
dan kami akan selalu ada untukmu
walau mungkin suatu saat nanti, kita terpisah ruang dan waktu

Percayalah, yakinlah,
Kamu tak perlu membayar apapun pada kami
karena kami tidak sedang berdagang ataupun berinvestasi

Lanjutkan hidupmu,
apapun adanya dirimu nanti,
percayalah, sekarang kami sedang bersiap untuk menerima itu,
dan pada waktunya nanti, kami pasti siap.

Kami selalu menyayangimu,
Doa kami menyertaimu  :)

Vier dan Barang Berharganya



Barang-barang yang lebih banyak dalam kondisi rusak daripada utuh, 
Tetap disimpannya, tak secuilpun terbuang.


Seribu tiga ratus tiga puluh empat hari berlalu, baru dan usang hanyalah soal waktu.


Dunia bagai bergoncang,
ketika si pemilik mulai mencari-cari barang mungil yang ia ingat untuk digunakannya.
Akan benar-benar berguncang ketika ia tak kunjung menemukan apa yang dicarinya.


Sekilas, barang-barang itu seperti "barang rongsok", tapi bagai emas dimata pemiliknya.

Kami tak pernah menyingkirkan barang-barang itu,
selama kau masih menginginkannya, Nak.

Bermainlah sepuasmu,
karena dengan bermain kau belajar.



Vier Mau Sekolah di Rumah

Pagi ini, seperti biasa, aku ngobrol dengan Vier sambil menemaninya mandi. Ya, menemaninya mandi karena sebenarnya Vier sudah mulai bisa mandi sendiri, tetapi karena inilah satu-satunya moment yang bisa kumanfaatkan untuk ngobrol dengannya secara bebas, tanpa intervensi ide dari siapapun. Jadi, aku bisa menggali pikiran Vier yang genuine, yang belum tentu aku bisa dapatkan ketika kami ngobrol dengan dikelilingi beberapa orang dewasa. Intinya, sebenarnya kami butuh "our time", berdua atau kadang bertiga dengan Si Pa'e, ngobrol.

Vier : Raka kemana sih, Bun?
Aku : Maksudnya gimana, Raka kemana?
Vier : Raka ga main ke rumah Vier lagi, Bun.
Aku : Owh..Raka kan sudah mulai sekolah PAUD, di TK dekat masjid situ. Emang kenapa? Vier mau sekolah di PAUD juga, biar bisa main lagi sama Raka?
Vier : Tidak mau (dia lagi senang menggunakan "tidak mau" daripada "ga mau".). Vier mau di rumah aja.
Aku : Maksudnya gimana?
Vier : Vier ga mau sekolah, Bun. Vier di rumah aja. Bu guru aja yang ke rumah Vier.
Aku : Owh.. Vier mau sekolah di rumah aja? Jadi, Bunda minta Bu guru untuk datang ke rumah Vier? Kenapa begitu?
Vier : Iya. Soalnya Bu guru naik motor.


Aku makin bingung dengan statement anak 3,5 tahun ini.

Aku : Maksudnya gimana, Vier? Vier juga bisa diantar naik motor ke sekolah sama Pa'e atau Bunda kan?
Vier : Tapi Pa'e sama Bunda kan kerja? Vier masih kecil. Kalo Bu Guru kan udah gede, bisa naik motor sendiri.

Owh..aku mulai paham kemana arah pembicaraan anak ini. Vier sedang belajar membandingkan dirinya dengan segala hal yang sedang dia lihat, apapun. Proses membandingkan tersebut harus aku lihat sebagai sebuah proses perkembangan cara berpikirnya. Walaupun sejujurnya aku sangat kagum dengan caranya membangun logika untuk menjelaskan padaku kenapa dia memilih belajar di rumah.
Sambil senyum-senyum melihatnya berusaha meyakinkanku, dalam hatiku berbisik padanya, "Subhanallah, Nak. Itu penjelasan yang paling masuk akal buat Bunda. Bunda bisa menerima penjelasanmu, Nak. Terima kasih sudah berusaha memahamkan Bunda tentang caramu berpikir dan berlogika. Sekali lagi, Bunda belajar darimu."

Catatan untuk Laki-lakiku

Sayang,

Jangan berjalan di depanku,

karena mungkin aku tak mampu mengikutimu
Jangan berjalan di belakangku,
karena mungkin aku bukanlah panutanmu
Berjalanlah bersamaku,
merenda hidup kita dengan rasamu dan rasaku,
dengan katamu dan kataku,
dan dengan lakuku dan lakumu..

Membangun kita.

Sepenggal Catatan Menjelang Pernikahan

Sudah lama sebenarnya aku ingin membagi kisah ini padamu, untuk menjawab serbuan pertanyaanmu tentang pernikahan, yang mungkin aku sendiri juga tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Baiklah, mungkin memang sekaranglah waktu yang tepat untuk menceritakannya.

Semuanya dimulai ketika aku mulai memasuki usia 20 tahunan. Sebenarnya, bukan berarti aku tidak tertarik pada orang lain sebelum aku berusia 20-an. Aku pernah tertarik dengan teman laki-lakiku ketika SD, bahkan sampai sekarang pun jantungku masih berdegup kencang ketika aku mengingatnya. Dan perasaan itu membuatku jadi mengerti bahwa tidak ada yang namanya "cinta monyet". Cinta ya cinta..sudah..tidak perlu ditambahi dengan kata monyet, sejati, palsu, atau apalah. 

Aku juga pernah tertarik dengan kakak kelasku ketika aku SMP dan SMA, atau dengan teman sekelas waktu SMP dan SMA. Dan rasanya sama, ketika aku mengingatnya, atau aku bertemu dengannya di facebook atau twitter, hatiku tetap berdegup tak keruan. Ketika kuliahpun, aku pernah tertarik dengan teman sekampus atau dengan senior. Bahkan ketika aku sudah mulai bekerja, aku juga pernah tertarik dengan rekan kerjaku. Mungkin itu yang namanya jatuh cinta, dan aku baru tahu, ternyata jatuh cinta bisa berkali-kali. Tidak semua ketertarikanku berbalas. Kadang, aku hanya mengaguminya diam-diam, memandangnya dari kejauhan pun rasanya sudah cukup. Tanpa aku sadari pun, ada juga yang  memandangiku dari kejauhan, dan tersipu ketika tak sengaja aku memergokinya.

Semuanya dimulai ketika aku mulai memasuki usia 20-an. Ketika aku mulai menyadari bahwa dunia tak selebar daun kelor, bahwa ada beragam manusia di dunia, dan semuanya seharusnya baik-baik saja, hidup dalam harmoni.  Aku memang tidak seperti Paris Hilton dengan setumpuk kekayaan dan dandanan feminin serta punya banyak penggemar. Aku hanya begini, perempuan yang bisa dibilang hampir tidak pernah memanjangkan rambutnya karena malas menyisir, dengan celana jins yang dicuci 2 minggu sekali, kaos oblong warna hitam dan sendal jepit warna hijau. Aku juga jauh dari seksi. Berat badanku selalu di atas berat badan ideal. Dan satu lagi, aku jarang mandi. Pendek kata, aku sama sekali tidak memenuhi kriteria sebagai perempuan cantik, menurut pendapat masyarakat kebanyakan. Tapi, biarpun begitu, ternyata banyak yang suka padaku. Tidak hanya laki-laki yang tertarik padaku dan ingin pacaran denganku, ada juga perempuan yang tertarik padaku dan ingin menjadi pacarku. 

Dari situlah semuanya berawal, ketika aku mulai memasuki usia 20-an, dan aku mulai mencari tahu lebih banyak tentang kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan bergantian muncul, melayang-layang di kepalaku, tentang tujuan hidupku, tentang arah hidupku, tentang masa depan, dan tentunya juga tentang pernikahan dan membangun keluarga. Semua proses yang aku alami ternyata memberikan banyak pelajaran padaku. 

Perempuan-perempuan yang tertarik padaku dan ingin menjadi pacarku mengajarkan bahwa mereka ada, normal, biasa, bukan sakit dan bukan kafir. Mereka hanya mempunyai orientasi seksual yang berbeda denganku, aku tertarik dengan laki-laki dan mereka tertarik dengan perempuan, itu saja. Lepas dari itu, semuanya sama. Mereka juga punya keinginan untuk menikah dan membangun keluarga, walaupun undang-undang negara kita tidak mengatur tentang pernikahan mereka. Tapi cinta mereka, melebihi dan tidak bisa diatur oleh undang-undang manapun. Sekali lagi aku belajar tentang cinta..cinta ya cinta..sudah.
Laki-laki yang tertarik padaku, baik diam-diam maupun secara terang-terangan menyatakan cinta padaku, mengajarkan aku tentang penghargaan. Bahwa cinta tidak bisa dipaksa untuk tumbuh. Cinta datang tanpa diundang, karena memang sebenarnya cinta sudah ada dalam diri kita masing-masing, sejak kita lahir dan sampai kapanpun. Sekali lagi aku belajar tentang cinta..cinta ya cinta..sudah.

Waktu terus berjalan, dan aku masih menikmati kehidupanku yang seperti ini. Kuliah, 'nongkrong' dengan teman-temanku, mencari pekerjaan sampingan agar tetap bisa memenuhi keinginanku beli buku dan jalan-jalan murah, memfasilitasi kegiatan-kegiatan anak-anak di Penjara Anak Tangerang, bikin-bikin kegiatan sana-sini. Begitulah. Kadang terlintas rasa kangen untuk pulang ke Kediri dan berkegiatan di sana. Kadang juga terlintas pikiran-pikiran untuk punya pacar dan menikah. Membayang-bayangkan seandainya aku punya pacar. Membayang-bayangkan apa saja yang akan aku lakukan dengan pacarku. Membayang-bayangkan rupa pacarku dan menebak-nebak apakah aku akan menikah atau tidak. 

Ya, waktu itu aku memang belum memutuskan untuk menikah atau tidak menikah. Bagiku, waktu itu, kedua pilihan ini sama kuatnya. Banyak alasan kuat yang melatarbelakangi kenapa aku tidak menikah. Tokh, selama ini aku juga bisa menghadapi dan menyelesaikan semua masalahku sendiri. Tokh, aku punya banyak teman yang selalu ada untukku setiap saat. Tokh, aku punya keluarga yang selalu menyayangiku dan merindukanku. Mungkin justru dengan menikah, malah membuatku merasa terbebani. Begitulah pikirku waktu itu, dan aku belum memutuskan apakah aku akan menikah atau tidak. Aku bahkan memutuskan untuk tidak pacaran.

Sampai pada suatu malam, aku tiba di kosan setelah beraktivitas di Penjara Anak Tangerang. Seluruh badanku terasa sangat lelah. Aku merasakan penat yang teramat sangat, semacam rasa lelah hati bercampur dengan lelah badan, dan semua terasa sepi. Aku hanya bisa terbaring diam, memandangi langit-langit kamar kosku, merasakan sepi dan hampa. Kosong sekali rasanya hatiku. Dan tiba-tiba terlintas sebuah pikiran, 'aku perlu berbagi, aku butuh teman untuk melanjutkan hidupku'.

Malam itu menjadi titik balik bagiku. Malam itu aku memutuskan untuk menikah. Ya, aku akan menikah. Kurang lebih, beginilah doaku setelah aku melakukan sholat hajat, "Ya Allah, malam ini kuputuskan bahwa aku akan menikah. Aku telah siap membagi hidupku dengan seseorang dan aku membutuhkan teman untuk melanjutkan hidupku, agar lebih berkah dan memberi manfaat lebih banyak bagi dunia. Ya, Allah, pertemukanlah aku dengan seseorang yang juga telah siap untuk membagi hidupnya denganku dan menjadikanku teman dalam melanjutkan hidupnya, agar lebih berkah dan memberi lebih banyak manfaat bagi dunia. Aku hanya butuh seseorang ya, Allah. Tidak lebih. Dan aku harap ada seseorang yang membutuhkanku, tidak lebih juga."

Sejak malam itu, hidupku berubah. Aku semakin yakin bahwa aku akan menikah, padahal pacar pun aku tak punya. Ketika kunyatakan pada kawan-kawanku bahwa aku akan menikah, pertanyaan selanjutnya yang mereka ajukan adalah: Kapan? Sama siapa?

Naaahh..ini masalahnya. Aku sendiri pun tak tahu kapan aku akan menikah, dan dengan siapa akan menikah. Maka, untuk pertanyaan pertama, aku tetapkan dengan jawaban: Dua tahun setelah tahun 2008, aku akan menikah. Setiap orang yang menanyakan tentang kapan aku akan menikah, maka aku menjawabnya: Dua tahun lagi. Entah kenapa, aku begitu yakin bahwa aku akan menikah dua tahun kemudian.
Pertanyaan kedua adalah pertanyaan yang sulit kujawab, karena pertanyaan yang ini tak bisa kutetapkan dengan mudah. Jangankan wujud atau penampakannya, lha wong namanya saja tak terbayang olehku. Apakah orang yang akan kunikahi akan bernama Joni, Adam, Muhammad atau Joko? Alhasil, yang bisa kulakukan hanyalah mereka-reka, meng-angan-angan-kan seseorang yang akan menikah denganku. Dan ada hal yang berubah setelah itu, yang kalau aku ingat-ingat, sangat menggelikan. Aku mulai menebak-nebak setiap laki-laki yang dekat denganku, diakah yang akan menjadi suamiku?Apakah dia akan cocok jadi teman hidupku nanti?

Seorang teman berkata padaku, "Orang baik akan mendapatkan hal yang baik juga. Agaknya ini juga berlaku untuk jodoh. Kalau mau punya jodoh yang baik, ya tentu kita harus mulai berusaha untuk jadi baik, agar kita menjadi pantas untuk menerima hal yang baik itu." Sekilas, kudengar kalimat itu seperti kalimat Pak Mario Teguh dalam The Golden Ways. Tapi lama-lama, aku pikir, mungkin yang dia bilang ada benarnya juga. Pertanyaan selanjutnya adalah, jodoh yang baik itu yang seperti apa? Orang yang baik menurut aku sendiri itu yang seperti apa? dan yang dimaksud baik olehku itu sebenarnya apa? Maka mulailah aku mendefinisikan "baik" menurutku.

Sejak SMA, aku terbiasa menuliskan semua hal yang ingin kuselesaikan, capai, miliki, lakukan dan nikmati. Aku selalu membuat daftar atau sekedar catatan tentang hal-hal itu. Dan, di kemudian hari, aku menemukan Buku "Agenda Refleksi dan Tindakan" karya Andreas Harefa, yang juga menyatakan tentang  betapa perlunya menuliskan atau mencatat hal-hal yang ingin diselesaikan, capai, miliki, lakukan dan nikmati. 

Aku pun mulai menuliskan tentang laki-laki seperti apa yang akan menjadi suamiku. Diawali dengan menuliskan kalimat Basmalah di bagian paling atas selembar kertas HVS putih, aku mulai menulis:

Dengan ijin Allah, aku siap menikah dengan laki-laki yang:

  • Mempunyai pandangan dan cita-cita kehidupan yang sama denganku, yaitu memberi manfaat dan keberkahan, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk makhluk Tuhan yang lain.
  • Memperlakukan dirinya dan  makhluk Tuhan lainnya dengan penuh penghargaan dan penghormatan, serta mengakui keberadaannya. 
  • Mampu menjadi "teman"-ku, sehingga tidak akan ada konsep "melayani dan dilayani" dalam relasi kami membangun keluarga. Semua hal dapat dilakukan bersama-sama, saling melengkapi, dengan pembagian peran yang disepakati, dalam proses membangun kesepakatan yang setara. Tidak ada yang direndahkan satu sama lain.
  • Bersedia menerima apapun kondisiku, dan sebaliknya, aku juga akan bersedia menerimanya, apapun yang ada pada dirinya. Apabila terdapat hal-hal pada dirinya yang aku belum dapat menerimanya dan sebaliknya, maka aku akan mepertimbangkannya lagi, apakah ia memang laki-laki yang akan menjadi suamiku.
  • Bersedia dan mampu berjalan bersamaku untuk mengembangkan sebuah usaha keluarga. Aku bermimpi dapat memproduksi film-film dokumenter bersama pasanganku. Aku bermimpi membangun usaha rumah produksi film dokumenter, sebagai sebuah usaha keluarga. 
  • Siap membangun sebuah keluarga yang mandiri dan merdeka bersamaku.
  • Mempunyai pandangan tentang anak-anak yang sama denganku, bahwa anak, pada dasarnya adalah sebuah amanah yang ingin kita emban dari Sang Maha. Dia tidak hanya sekedar lucu dan menggemaskan, tetapi dia punya catatan hidup dan masa depannya sendiri, dan orang tua hanyalah fasilitator bagi kehidupannya.

Begitulah, aku menuliskan mimpiku. Tak puas, aku pun membubuhkan tanggal dan menandatanganinya, seolah seperti sedang membuat perjanjian. Tentunya, masih ada banyak mimpi yang aku tuliskan dalam lembar-lembar yang lain.


---


Waktu berselang, dan aku masih menyimpan rapi lembaran itu, walaupun aku tak membuka dan membacanya lagi. Kehidupan terus berjalan. Manis. Pahit. Suka. Luka. Bara. Bahagia. Tawa. Tangis. Perih. Lega. Senang. Sedih. Kecewa. Amarah. Maaf. Pasrah. Menerima. Benar. Nyeri. Salah. Bertahan. Melawan.  Memulai. Mengakhiri. Berangkat. Datang. Pergi. Tiba. Kata. Laku. Rasa. Berjuang. Sakit. Menyerah. Benci. Cemburu. Iri. Cinta. 



Pada cintalah kehidupanku berhenti sejenak. Cinta telah memilihku untuk mengalaminya. Cinta yang biasa namun tak biasa. Cinta yang tak biasa namun biasa. Cinta memberiku ruang untuk melihat kembali, merasakan lebih dalam, memberiku kesempatan untuk melakukan, menerima untuk dipilih dan memilih. Dan pada titik itulah, setidaknya aku punya rumusan cinta-ku sendiri:

Cinta itu membesarkan, bukan mengecilkan

Cinta itu memerdekakan, bukan membelenggu
Cinta itu mencerdaskan, bukan membodohi, bahkan membodoh-bodohkan
Cinta itu memberdayakan, bukan membuat ketergantungan
Cinta itu memberi jalan, bukan menyesatkan
Cinta itu menyehatkan, bukan menyakiti, bahkan menyakitkan
Cinta itu menguatkan, bukan melemahkan
Cinta itu nyata, bukan khayalan

Pada saat bersamaan, hadirlah seorang teman biasa dalam kehidupanku. Aku percaya, ini bukan kebetulan. Teman biasa yang bercokol cukup lama di kehidupanku. Bersamanya, membagi cerita, membagi kerja, membagi makanan, mengalami perasaan-perasaan yang sama. Teman biasa yang juga tahu, apa yang telah terjadi padaku saat itu. Teman biasa yang rela berhujan-hujanan datang mengunjungiku. Teman biasa yang bersedia berjam-jam mendengarkan celotehku, tanpa mengantuk dan bosan. Teman biasa yang sangat tahu tentang mimpi-mimpiku dan menyetujuinya.


Teman biasa inilah yang bersedia membagi hidupnya denganku, dan aku bersedia membagi hidupku dengannya. Teman biasa ini yang mengajarkanku tentang cinta yang nyata. Dan setelah aku menyadarinya, aku teringat akan lembaran mimpi yang pernah kutuliskan pada selembar kertas pada tahun 2008. Dan setelah aku menyadarinya, itu terjadi tahun 2010. Tepat 2 tahun setelah aku menuliskannya.

Aku percaya ini bukan kebetulan. Allah menentukan jodoh dengan cara yang kita tak pernah duga. Bahkan aku hanya menuliskan, meminta dan percaya kepada-Nya. 

Tapi jangan sangka aku telah hidup bahagia selama-lamanya dengan seorang pangeran seperti dalam dongeng. Bersamanya, aku menyadari bahwa ada satu poin yang belum sempat kutuliskan dalam daftarku dan akan kutambahkan sekarang:


Belajar hidup dan berproses menjadi dewasa bersamanya.
Dan cinta memang tak cukup untuk itu, tapi cintalah yang mendasarinya.

"Burung Kakak Tua" versi Vier

Versi 1

Bulung kakak tuaa
Mencloknaa di jendelaaa
Nenek sudah tuaa
Mencloknaaa di jendelaaa (nada tinggi, agak ngotot)

Tekdung...tekdung...
Tekdung...talalaaaaa (ngotot)
Mencloknaa di jen...delaaaaa....

---

Versi 2

Bulung kakak tuaa
Gigina tinggal duaaaaaaaaa (langsung nada tinggi, ngotot banget, langsung end!)

---

Versi 3

Bulung kakak tuaa
Mencloknaa di jendelaa
Nenek sudah tuaaa
Gigina tinggal duaaa...

Tekdung...tekdung...
Tekdung...talalalaaaaaaaa (nada tinggi, sok menghayati)
Nenek sudah tuaaaaa... (sambil lompat dari atas kursi tamu, dan bunda siap-siap menangkapnya di bawah)

Senja, antarkan aku pada Malam

Senja, antarkan aku pada Malam
biar kutemui Hening bersamanya,
untuk bicara dalam bahasa keheningan
tentang cerita sejuta cinta.

Senja, antarkan aku pada Malam,

biar kutemui Bintang bersamanya,
untuk menitipkan cerita sejuta cinta
sepaket dengan derai tawa dan air mata
mewujud jadi pendar cahaya.

Senja, antarkan aku pada Malam.


Grow Old With You

Entah kenapa, tiba-tiba saya teringat tentang lagu ini. Grow Old With You, salah satu soundtrack film The Wedding Singer yang dibawakan oleh Adam Sandler. 
Entah kenapa juga, tiba-tiba saya sangat ingin mendengarkan lagu itu sekarang. Ya, saat ini juga. 

"Grow Old With You"

I wanna make you smile whenever you're sad
Carry you around when your arthritis is bad
All I wanna do is grow old with you

I'll get your medicine when your tummy aches
Build you a fire if the furnace breaks
Oh it could be so nice, growing old with you

I'll miss you
I'll kiss you
Give you my coat when you are cold

I'll need you
I'll feed you
Even let ya hold the remote control

So let me do the dishes in our kitchen sink
Put you to bed if you've had too much to drink
I could be the man who grows old with you
I wanna grow old with you

Lagu ini dapat diakses pada tautan berikut:


atau


Cinta tetap menjadi bahasan utama pada lagu ini. Tapi penyajian cinta yang tidak muluk-muluk, yang biasa, yang sederhana, yang nyata itulah yang menurut saya membuat lagi ini menjadi menarik. Mungkin begitulah cinta. Tak perlu pemaknaan dan pengungkapan penuh metafora, tapi hadir, ada, mewujud dan ter'rasa'. 

Lagu ini mampu mewujudkan cinta dalam tindakan, yang kecil mungkin, tapi nyata dan sangat mungkin menjadi "langgeng". 


Kecil, tapi menjadi besar apabila dilakukan dengan cinta. 

Biasa, tapi menjadi luar biasa apabila dilakukan dengan cinta. 
Sederhana, tapi menjadi istimewa apabila dilakukan dengan cinta. 

Tak perlu harus bunuh diri, tak perlu harus merangkai berjuta kata hingga berbusa, karena cinta tak melulu kata. Ada laku dan rasa juga dalam cinta.

Vier Mencari Ekornya

Ini adalah cerita beberapa minggu yang lalu, ketika Vier mulai terlihat sangat "terobsesi" dengan ikan. Sebenarnya sudah hampir 2 bulan terakhir ini, Vier menjadi sangat tertarik dengan ikan. Tepatnya sejak ia bisa mengucapkan  kata "ikan" dengan sempurna. Sebelumnya, penguacapan Vier untuk kata ikan adalah "itan" atau kadang ia singkat menjadi "tan".Ikan sebenarnya bukan obyek mainan baru bagi Vier. Sebelum ia berumur 1 tahun pun, ia sudah mengenal ikan. 
Awal perkenalan Vier dengan ikan terjadi ketika Umi, pengasuhnya, sering membawanya bermain ke mushola dekat rumah. Di samping mushola terdapat kali kecil, atau lebih tepat disebut parit, yang mengalir dan banyak ikan kecil di sana. Vier betah berlama-lama memandangi ikan-ikan kecil yang berenang di kali itu. Ketika belum lancar berjalan, ia hanya memandangi ikan-ikan kecil itu di pinggir kali. Ketika kaki mungilnya telah mampu menapak, Vier menemukan permainan baru di kali itu, yaitu memungut daun-daun kering, membuangnya ke kali, dan melihatnya terhanyut dibawa arus kali yang tak begitu deras. Seiring dengan kemampuan berjalannya, tak hanya daun kering yang ia lempar ke kali, bahkan sandalnya pun dilempar ke kali.Vier sangat menikmati ritualnya itu. Hampir setiap pagi, setelah mandi, diiring Mbak Ana, pengasuh barunya, Vier berjalan menuju mushola. Sampai di depan mushola, ia akan masuk ke halaman rumah Bu Ali, tetangga kami yang punya persediaan banyak daun kering untuk Vier, memanggil Kakak Shofa, cucu Bu Ali, mengajaknya bermain bersama. Permainan yang selalu mereka lakukan setiap hari, memungut daun kering, membuangnya ke kali, dan mengamati daun-daun itu melaju, hanyut.
Mbak Ana adalah pengasuh yang sangat kreatif. Melihat Vier dan Kakak Shofa yang gemar ikan dan membuang daun kering, ia berinisiatif untuk menangkap ikan-ikan kecil itu. Alhasil, bukan hanya Vier dan Kakak Shofa yang menikmati permainan ini, Mbak Ana pun tak kalah senangnya. Ia mengambil pengki untuk menangkap ikan-ikan kecil di kali, kemudian memasukkannya ke dalam botol air mineral, yang ia minta dari Bu Ali. Vier dan Kakak Shofa kegirangan, berlari pulang sambil membawa botol air mineral berisi ikan kecil.
Sejak itulah Vier mulai mengamati ikan. Ia mulai bertanya tentang bagian tubuh ikan. Ia mulai mengeja mata, ekor, perut, mulut, gigi, kepala, sirip. Setiap ia menemukan gambar ikan, dimanapun, maka ia akan mengajak orang-orang di sekitarnya untuk mengeja anggota tubuh ikan. 
Ikan yang sangat menarik dan keren, sekaligus membuat Vier penasaran adalah ikan hiu. Ia selalu minta digambarkan ikan hiu, lengkap dengan gigi tajamnya, dan ia akan langsung berseru,"Tatut..tatut..".  
Ketika kutanya, "Takut apa, Vier?", 
Ia menjawab, "Tan iyu",
"Kenapa?"
"Tadem"
"Apanya?"
"Didi"
Olala..Rupanya dia punya imajinasi tersendiri tentang ikan hiu, yang besar dan giginya tajam, membuatnya takut. Walaupun sebenarnya perlu diklarifikasi juga apa yang dimaksud Vier dengan "takut". Jangan-jangan "takut" yang dimaksudnya adalah penasaran, ingin tahu lebih banyak, karena biarpun ia bilang "takut" berkali-kali, tokh, ikan hiu tetap menjadi favoritnya.
---
Pagi itu, seperti biasa Vier mandi ditemani ikan plastik kesukaannya. 
"Itu ikan apa, Vier?"
"I kan iyu"
"O ya? Ikan hiu?"
"Tan iyu",ia kembali ke logat lamanya.
"Tadem"
"Apanya?"
"Didi"
"Mana? Gak ada giginya tuh..Bunda gak lihat"
"Tuh..tuh..", katanya sambil menunjuk mulut ikan plastik itu.
"Kalau ini, apa namanya, Vier?", tanyaku sambil menunjuk ekor ikan plastik itu.
"Etoll"
"Ikan punya ekor ya..kalau Vier, punya ekor ga ya?"
".............."
Vier tak menjawab, hanya sibuk berputar-putar, seperti mencari-cari sesuatu di belakangnya, yang tak kunjung ia temukan. Aku pun bengong melihatnya."Kamu lagi ngapain, Vier?", tanyaku, "Vier cari apa?"
"Eeetolll", katanya.
"Ekor Vier?", tanyaku.
"Manya?", ia balik tanya kepadaku.
"Dak ada", katanya.
"Iya, ekormu gak ada di luar, adanya di dalam, di sini.", kataku sambil menunjuk bagian tulang belakangnya.
"Vier, ekor Vier ada di dalam, gak kelihatan. Namanya tulang ekor, bukan ekor seperti ikan, Nak." 
---
Oalaaahh...rupanya ia sibuk mencari ekornya, yang ia bayangkan seperti ekor ikan plastik itu. Mungkin masih sulit buat Vier membayangkan ekor yang ada di dalam tubuhnya. Tapi tak apalah. Setidaknya, ini adalah awal baginya belajar mengenali tubuhnya.

Arsha Vierrizki Harwoko

ARSHA means ancient spiritual knowledge. In ancient times in India, the spirituality and science were not in contradiction to each other.Rishis were scientists as well as revealer of spiritual knowledge to the society. They were able to explain matter, life as well as cosmic energy. (Terjemahan bebas: ARSHA berarti pengetahuan spiritual kuno. Pada zaman kuno di India, spiritualitas dan ilmu pengetahuan tidak bertentangan satu sama lain. Resi adalah ilmuwan sekaligus pewahyu pengetahuan spiritual untuk masyarakat, mereka mampu menjelaskan materi, hidup serta energi kosmik)
-http://www.arshayoga.org/-


Arsha Vierrizki Harwoko
Kata "ARSHA" itulah yang pertama kali terlintas di benak saya 16 bulan yang lalu, ketika saya sedang mencari-cari nama untuk anak pertama kami. Terus terang, kami baru memikirkan nama untuk anak ketika kehamilan saya mulai memasuki usia 8-9 bulan. Bulan-bulan sebelumnya kami begitu "cuek", santai saja menikmati kehamilan sambil tetap melakukan aktivitas seperti biasa, bekerja, mengedit film pendek dan video dokumentasi, melakukan penelitian, nonton di bioskop, jalan-jalan, makan di angkringan sampai memasak bersama. 

Suami saya juga tak kalah serunya berburu nama untuk anak pertamanya. Hanya saja cara kami berbeda. Saya mulai mencari nama dengan membeli buku kumpulan nama-nama bayi, kemudian menyambung-nyambungkannya dengan kata yang lain, browsing di internet, sampai mencari-cari di koran. Suami saya mencari nama untuk anak kami dengan cara merenung sambil menikmati sebatang rokok, duduk di atas jok motornya. Cukup lama ia duduk di atas jok motornya, merenungkan nama yang menurutnya tepat untuk anak pertamanya. Diam, ia hanya menatapi langit malam hari sambil otaknya sibuk mengotak-atik deret huruf untuk memberi makna pada sebuah nama.

Tiba-tiba ia melompat dari jok motor yang sedari tadi menjadi 'singgasana'-nya, dan bergegas menghampiri saya, yang masih berkutat dengan laporan penelitian. "Bun, Pa'e mau anak kita namanya VIER!!", katanya dengan mata berbinar. Saya terperangah melihatnya, kaget bercampur bengong karena ia tiba-tiba ada di hadapan saya. "Vier??", saya mengulangi kata itu dengan penuh tanya. Sepertinya ia memahami kebingungan saya, "Iyaa, Vier aja ya, Bun. Itu singkatan nama kita, Vi-nya diambil dari nama Bunda, Er-nya diambil dari nama Pa'e. Bagus kan, Bun? Kayanya belum ada anak yang namanya begitu. Kalau Bunda maunya dikasih nama siapa, Bun? Ada yang bagus gak di buku itu? Kalau ada yang bagus, kita sambungin aja, Bun. Ada gak, Bun?", ia bertanya seolah menginterogasi. Sepertinya, baginya, urusan nama anak ini harus segera dibereskan, agar ia bisa berkonsentrasi untuk menyiapkan kelahiran anak kami. 
"Ada."
"Apa, Bun?"
"Arsha"
"Artinya?"
Saya kemudian menunjukkan padanya sebuah halaman website.
"Bagus juga nama itu, Bun. Pa'e juga mau nama itu dipakai. Gimana nyambunginnya?", ungkapnya setelah merenungi halaman website itu. Saya juga bingung, dan hanya bisa diam, sambil mikir.
"Arsha...Vier...Arsha...Vier...gimana ya?"
"Gimana kalau ARSHA VIERRIZKI saja? Nyambung gak, Pak?"
"Hmm...nyambung, Bun. Belakangnya tambahin Harwoko ya, Bun. Jadinya ARSHA VIERRIZKI HARWOKO, gimana, Bun?
"Bolleehh..kedengerannya OK juga ya, Pak."
"Ya udah, Bun. Itu aja ya namanya. Pa'e catet yaa.."
"Ha?? Dicatet?? Gak salah niyy??" tanya saya dalam hati, dan sepertinya ia mengerti kebingungan saya, "Iyaa, Bun. Ini Pa'e catet, biar fix. Biar gak berubah lagi, jadi nanti kalau ditanya sama suster di rumah sakit, Pa'e bisa langsung kasih catetannya. Siapa tau Pa'e gugup, terus lupa.".
Owalaaahh..suamiku sayang..jujur, saya tidak terpikir sampai kesana. Rupanya Pa'e begitu detail mempersiapkan kelahiran anak kami.

Tak lama setelah pembicaraan itu, "Bun, nanti kalau namanya Arsha Vierrizki Harwoko, nama panggilannya siapa ya?", hah?? Hal ini juga tidak terpikirkan oleh saya. Pertanyaan-pertanyaannya selalu membuat saya terhenyak dan sadar, ada yang belum terselesaikan. Saya jadi mikir.
 "Bun, kok diam?", lama ia menunggu saya berucap.
"Kalau kita panggil dia VIER aja gimana, Pak?"
"Vier? Gak Arsha aja, Bun?"
"Kayanya Arsha kok kedengerannya berat ya, Pak. Gimana?"
"Vier juga seru tuh, Bun. Ya udah, kita panggil Vier aja."
"Yaa..tapi yang ini gak usah dicatet", kata saya. 

Keesokan harinya, "Bun, mulai hari ini kita mulai panggil dia dengan namanya ya.. Bunda panggilnya jangan bayi  lagi, panggilnya Vier ya, Bun." Saya hanya bisa tersenyum, dan menahan air mata yang berebutan ingin mengucur. 

Sejak hari itu, ia bernama. Ia adalah Arsha Vierrizki Harwoko, anak pertama kami. Nama panggilannya adalah Vier.